Popular Posts

Kerajaan Agama Islam

Kerajaan Agama Islam Jawa Kerajaan Demak adalah kesultanan islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Kesultanan ini sebelumnya merupakan keadipatian (kadipaten) vazal dari kerajaan Majapahit, dan terpecah menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya.
Pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa surut, secara praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling serang, saling mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit.  Pada masa itu arus kekuasaan mengerucut pada dua adipati, yaitu Raden Patah dan Ki Ageng Pengging.  Sementara Raden Patah mendapat dukungan dari Walisongo, Ki Ageng Pengging mendapat dukungan dari Syekh Siti Jenar.
A. Kehidupan Politik Kerajaan Demak
a. Raden Patah
Raden Patah
Raden Patah dianggap sebagai pendiri dari kerajaan Demak dan merupakan orang yang berhubungan langsung dengan kerajaan Majapahit. Salah satu bukti menyebutkan bahwa beliau adalah putra dari raja Brawijaya V dari Majapahit (1468-1478). Beliau memerintah dari tahun 1500-1518. Di bawah pemerintahnya, Demak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal itu disebabkan Demak memiliki daerah pertanian yang sangat luas sebagai penghasil bahan makanan terutama beras. Oleh karena itu, Demak menjadi kerajaan agraris-maritim.
Wilayah kekuasaan Demak tak hanya sebatas pantai utara Jawa, seperti Semarang, Jepara, Tuban, dan Gresik tapi hingga ke Jambi dan Palembang di Sumatera timur.
Foto Wali Sanga
Wali Sanga sangat membantu dalam penyebaran agama Islam di Jawa
Kerajaan Demak berkembang sebagai pusat perdagangan dan sebagai pusat penyebaran agama Islam. Jasa para wali dalam penyebaran agama Islam sangat besar, baik di pulau Jawa maupun daerah-daerah di luar Pulau Jawa, seperti penyebaran agama Islam ke daerah Maluku dilakukan oleh Sunan Giri, ke daerah Kalimantan Timur dilakukan oleh seorang penghulu dari Demak yang bernama Tunggang Parangan. Pada masa pemerintahan Raden Patah, dibangun masjid Demak yang pembangunan masjid itu dibantu oleh para wali atau sunan.
Akan tetapi, ketika Kerajaan Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511 M, hubungan Demak dan Malaka terputus. Kerajaan Demak dirugikan oleh Portugis dalam aktivitas perdagangan.
b. Pati Unus
Pati UnusPada tahun 1513 Raden Patah memerintahkan Pati Unus memimpin pasukan Demak untuk menyerang Portugis di Malaka. Serangan itu belum berhasil, karena pasukan Portugis jauh lebih kuat dan persenjataannya lengkap. Atas usahanya itu Pati Unus mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor.
Setelah Raden Patah wafat, tahta Kerajaan Demak dipegang oleh Pati Unus. Ia memerintah Demak dari tahun 1518-1521 M. Masa pemerintahan Pati Unus tak begitu lama karena ia meninggal dalam usia yang masih sangat muda dan tak meninggalkan seorang putra mahkota. Walaupun usia pemerintahannya tak begitu lama, namun namanya cukup dikenal sebagai panglima perang yang memimpin pasukan Demak menyerang Portugis di Malaka.
c. Sultan Trenggana
Sultan TrengganaSultan Trenggana berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawah Sultan Trenggana, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546). Panglima perang Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (Sumatera), yang juga menjadi menantu Sultan Trenggana. Sultan Trenggana meninggal pada tahun 1546 dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan, dan kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto.
B. Keruntuhan Demak
Keruntuhan Demak
Arya Penangsang memngambil alih Kerajaan Demak setelah mengalahkan Sunan Prawoto
Suksesi ke tangan Sunan Prawoto tidak berlangsung mulus. Ia ditentang oleh adik Sultan Trenggono, yaitu Pangeran Sekar Seda Lepen. Pangeran Sekar Seda Lepen akhirnya terbunuh. Pada tahun 1561 Sunan Prawoto beserta keluarganya “dihabisi” oleh suruhan Arya Penangsang, putera Pangeran Sekar Seda Lepen. Arya Penangsang kemudian menjadi penguasa tahta Demak. Suruhan Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri adipati Jepara, dan hal ini menyebabkan banyak adipati memusuhi Arya Penangsang.
  Arya Penangsang akhirnya berhasil dibunuh dalam peperangan oleh Sutawijaya, anak angkat Joko Tingkir. Joko Tingkir memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang, dan di sana ia mendirikan Kesultanan Pajang.
C. Kehidupan di Demak
Kehidupan di Demak
Upacara Sekaten
Perekonomian di Kerajaan Demak berkembang dengan pesat dalam dunia maritim karena didukung oleh penghasilan dalam bidang agraris yang cukup besar. Kerajaan Demak mengusahakan kerjasama yang baik dengan daerah-daerah di pantai utara Pulau Jawa yang telah menganut agama Islam sehingga tercipta semacam federasi atau persemakmuran dengan Demak sebagai pemimpinnya.
  Kehidupan sosial Kerajaan Demak kebanyakan telah diatur oleh aturan -aturan Islam tapi tak juga meninggalkan tradisi yang lama.
  Kebudayaan yang berkembang di Kerajaan Demak mendapat dukungan dari para wali terutama Sunan Kalijaga. Masjid Demak dan perayaan Sekaten adalah salah satu peninggalan budayanya.
KERAJAAN BANTEN
KERAJAAN BANTEN
Wilayah kekuasaan Kerajaan Banten semasa peninggalan Hasanuddin
Kerajaan Banten didirikan oleh Hasanuddin pada abad ke 16 dan terletak di barat laut Banten atau Jawa pada umumnya. Hasanuddin sendiri adalah putra dari Fatahillah atau Sunan Gunung Jati dan mencapai masa keemasan pada kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa.
  Dengan posisi yang strategis inilah yang membuat Kerajaan Banten menjadi kerajaan besar di Jawa Barat dan bahkan menjadi siangan berat VOC (Belanda) yang berkedudukan di Batavia.
A. Kehidupan Politik Kerajaan Banten


a. Raja Hasanuddin
Raja Hasanuddin
Pengislaman Banten oleh Fatahillah membawa pada berdirinya Kerajaan Banten
Setelah Banten diislamkan oleh Fatahillah, daerah Banten diserahkan kepada putranya yang bernama Hasanuddin. Ia memerintah Banten dari tahun 1552-1570 M. Ia meletakkan dasar-dasar pemerintahan Kerajaan Banten dan mengangkat dirinya sebagai raja pertama. Pada masa pemerintahannya, agama Islam dan kekuasaan kerajaan Banten dapat berkembang cuup pesat.
  Raja Hasanuddin juga memperluas wilayah kekuasaannya ke Lampung. Dengan menduduki daerah Lampung, maka Kerajaan Banten merupakan penguasa tunggal jalur lalu lintas pelayaran perdagangan Selat Sunda, sehingga setiap pedagang yang melewati Selat Sunda diwajibkan untuk melakukan kegiatan perdagangannya di Bandar Banten.
b. Panembahan Yusuf, Maulana Muhammad, Abu’ Mufakir
Setelah wafatnya Raja Hasanuddin tahun 1570 M, putranya yang bergelar Panembahan Yusuf menjadi Raja Bnaten berikutnya. Ia berupaya untuk memajukan pertanian dan pengairan. Ia juga berusaha untuk memperluas wilayah kekuasaan kerajaannya. Setelah  10 tahun memerintah, Panembahan Yusuf wafat akibat sakit keras yang dideritanya.
  Setelah Panembahan Senopati wafat digantikan oleh putranya yang baru berumur sembilan tahun bernama Maulana Muhammad dengan gelar Kanjeng Ratu Benten. Mangkubumi menjadi wali raja. Mangkubumi menjalankan seluruh aktivitas pemerintahan kerajaan samapi rajanya siap untuk memerintah.
  Pada tahun 1596 M Kanjeng Ratu Banten memimpin pasukan kerajaan untuk menyerang Palembang. Tujuannya untuk menduduki bandar dagang yang terletak di tepi selat Malaka agar bisa dijadikan tempat untuk mengumpulkan lada dan hasil bumi lainnya dari Sumatera. Palembang akan dikuasainya, tetapi tak berhasil, malah Kanjeng Ratu Banten tertembak dan wafat. Tahta kerajaan kemudian berpindah kepada putranya yang baru berumur lima bulan yang bernama Abu’ Mufakir.
  Abu’ Mufakir dibantu oleh wali kerajaan yang bernama Jayanegara.  Akan tetapi, ia sangat dipengaruhi oleh pengasuh pangeran yang bernama Nyai Emban Rangkung.  Pada tahun 1596 M itu juga untuk pertama kalinya orang Belanda tiba di Indonesia di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Mereka berlabuh di pelabuhan Banten. Tujuan awal mereka datang ke Indonesia adalah untuk membeli rempah-rempah.
c. Sultan Ageng Tirtayasa
Sultan Ageng TirtayasaSetelah wafat, Abu’ Mufakir digantikan oleh putranya dengan gelar Sultan Abu’ Mu’ali Ahmad Rahmatullah. Tetapi berita tentang pemerintahan sultan ini tidak dapat diketahui dengan jelas. Setelah Sultan Abu’ Ma’ali wafat, ia digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Ageng Tirtayasa. Ia memerintah Banten dari tahun 1651-1692 M.
  Di bawah pemerintahannya, Banten mencapai masa kejayaannya. Ia berupaya untuk memperluas kerajaannya dan mengusir Beland adari Batavia. Di samping itu, ia memerintahkan kepada pasukan Banten untuk mengadakan perampokan terhadap Belanda di Batavia.
  Pada tahun 1671 M Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putra mahkota menjadi raja pembantu dengan gelar Sultan Abdul Kahar.  Beliau lebih dikenal dengan Sultan Haji. Sultan Haji membuat hubungan yang erat dengan Belanda dan hal itu mebuat ayahnya menarik kembali tahta kerajaan. Kemudian terjadilah perang saudara diantara keduanya. Peperangan dimenangkan oleh Sultan Haji dan pada akhirnya membawa kehancuran  pada Kerajaan Banten sendiri.
B. Kehidupan di Banten
Kehidupan di Banten
Masjid Agung Banten
Kerajaan Banten terletak di ujung Pulau Jawa, yaitu daerah Banten sekarang. Daerah Banten berhasil direbut dan diislamkan oleh Fatahillah dan berkembang sebagai banda perdagangan dan pusat penyebaran Islam. Banten yang cepat maju dikunjungi oleh pedagang-pedagang asing seperti pedagang Gujarat, Persia, Cina, Turki, Pegu (Myanmar), Keling, Portugis, dan lain-lain. Di Banten pun banyak berkembang perkampungan-perkampungan menurut asal bangsa itu. Kehidupan sosialnya kebanyakan telah mendapat pengaruh Islam. Tak banyak hasil kebudayaan yang dapat diperoleh dari Kerajaan Banten karena kerajaan ini banyak bergantung pada hasil pelayaran dan perdagangan. Masjid Agung Banten (Grand Mosque of Banten) adalah salah satu hasil peninggalannya yang dibangun sekitar abad ke-16.
KERAJAAN MATARAM
KERAJAAN MATARAM
Kota Gede, bekas ibukota Mataram Islam
Kesultanan Mataram adalah kerajaan Islam di Jawa yang didirikan oleh Sutawijaya, keturunan dari Ki Ageng Pemanahan yang mendapat hadiah sebidang tanah dari raja Pajang, Hadiwijaya, atas jasanya. Kerajaan Mataram pada masa keemasannya dapat menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya termasuk Madura serta meninggalkan beberapa jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti wilayah Matraman di Jakarta dan sistem persawahan di Karawang.
A. Kehidupan Politik di Mataram Islam
Kehidupan Politik di Mataram Islam
a. Panembahan Senapati
Panembahan Senapati
Pada mulanya daerah Mataram merupakan sebuah kadipaten yang diperintah oleh Kiai Gede Pamanahan (bekas kepala prajurit Hadiwijaya yang mengalahkan Arya Penangsang).
  setelah Kiai Gede Pamanahan wafat tahun 1575 M, kedudukan sebagai adipati Mataram digantikan oleh putranya yang bernama Sutawijaya dengan gelar Panembahan Senapati ing Aloko Saidin Panotogomo. Ia bercita-cita menguasai tanah Jawa. Oleh karena itu, berbagai persiapan dilakukan di daerah seperti memperkuat pasukan Wijaya dan penyerahan tahta dari pangeran Benowo kepada Senapati.
  Setelah berhasil membentuk kerajaan Mataram, Senapati mengadakan perluasan wilayah kerajaan dan menduduki daerah-daerah pesisir pantai seperti Surabaya. Adipati Surabaya menjalin persekutuan dengan Madiun dan Ponorogo dalam menghadapi Mataram. Namun Ponorogo dan Madiun berhasil dikuasai Mataram. Selanjutnya Pasuruan dan Kediri berhasil direbut. Adipati Surabaya berhasil dikalahkan.  Dengan demikian dalam waktu singkat wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur telah menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Mataram.
b. Mas Jolang
Mas Jolang memerintah Mataram dari tahun 1601-1613 M. di bawah pemerintahannya, Kerajaan Mataram diperluas lagi dengan mengadakan pendudukan terhadap daerah-daerah di sekitarnya. Daerah-daerah yang berhasil dikuasai oleh Mataram di bawah pemerintahan Mas Jolang adalah Ponorogo, Kertosono, Kedir, Wirosobo (Mojoagung). Pada tahun 1612 M, Gresik-Jeratan berhasil dihancurkan. Namun, karena berjangkitnya penyakit menular maka pasukan Mataram yang langsung dipimpin oleh Mas Jolang terpaksa kembali ke pusat Kerajaan Mataram. Pada tahun 1613 M, Mas Jolang wafat di desa Krapyak dan dimakamkan di Pasar Gede. Selanjutnya ia diberi gelar Pangeran Seda ing Krapyak.
c. Sultan Agung
Sultan Agung
Sesudah naik tahta Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Pada masanya Mataram berekspansi untuk mencari pengaruh di Jawa. Wilayah Mataram mencakup Pulau Jawa dan Madura (kira-kira gabungan Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur sekarang). Ia memindahkan lokasi kraton ke Kerta (Jw. “kertå”, maka muncul sebutan pula “Mataram Kerta”). Akibat terjadi gesekan dalam penguasaan perdagangan antara Mataram dengan VOC yang berpusat di Batavia, Mataram lalu berkoalisi dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon dan terlibat dalam beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC. Setelah wafat (dimakamkan di Imogiri), ia digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat (Amangkurat I).
d. Amangkurat 1
Amangkurat 1
Amangkurat 1 memindahkan lokasi keraton ke Pleret (1647), tidak jauh dari Kerta. Selain itu, ia tidak lagi menggunakan gelar sultan, melainkan “sunan” (dari “Susuhunan” atau “Yang Dipertuan”). Pemerintahan Amangkurat I kurang stabil karena banyak ketidakpuasan dan pemberontakan. Pada masanya, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunajaya dan memaksa Amangkurat bersekutu dengan VOC. Ia wafat di Tegalarum (1677) ketika mengungsi sehingga dijuluki Sunan Tegalarum.
e. Amangkurat 2
Amangkurat 2
Amangkurat 2 memerintah Mataram dari tahun 1677-1703 M. di bawah pemerintahannya, wilayah kekuasaan Kerajaan Matarm semakin sempit. Sebagian daerah-daerah kekuasaan diambil alih Belanda.  Amangkurat II yang tidak tertarik untuk tinggal di ibukota Kerajaan, selanjutnya mendirikan Ibu Kota baru di desa Wonokerto yang diberi nama Karta Surya. Di Ibu Kota inilah Amangkurat II menjalankan pemerintahannya terhadap sisa-sisa kerajaan Mataram, hingga akhirnya meninggal tahun 1703 M.
B. Keruntuhan Mataram Islam
Pengganti Amangkurat II berturut-turut adalah Amangkurat III (1703-1708), Pakubuwana I (1704-1719), Amangkurat IV (1719-1726), Pakubuwana II (1726-1749). VOC tidak menyukai Amangkurat III karena menentang VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja. Akibatnya Mataram memiliki dua raja dan ini menyebabkan perpecahan internal. Amangkurat III memberontak dan menjadi “king in exile” hingga tertangkap di Batavia lalu dibuang ke Ceylon.
  Kekacauan politik baru dapat diselesaikan pada masa Pakubuwana III setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta tanggal 13 Februari 1755. Pembagian wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Giyanti (nama diambil dari lokasi penandatanganan, di sebelah timur kota Karanganyar Jawa Tengah). Berakhirlah era Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah. Walaupun demikian sebagian masyarakat Jawa beranggapan bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah “ahli waris” dari Kesultanan Mataram.
C. Kehidupan di Mataram
Kehidupan di Mataram
Upacara Grebeg
Mataram yang letaknya jauh di pedalaman Jawa Tengah adalah sebuah negara agraris, yaitu negara yang mengutamakan pertanian sebagai sumber kehidupan. Di bawah pemerintahan Sultan Agung, kehidupan perekonomian masyarakatnya berkembang sangat pesat dengan didukung oleh  hasil bumi yang melimpah.
  Pada masa pemerintahan Sultan Agung pula dilakukan usaha memperluas areal persawahan dan memindahkan banyak petaninya ke daerah Karawang yang sangat subur sehingga terbentuklah masyarakat feodal.
  Upacara Grebeg yang bersumber dari pemujaan roh nenek moyang berupa kenduri gunungan merupakan tradisi dari zaman Majapahit.
KESULTANAN CIREBON
KESULTANAN CIREBON
Pintu masuki ke Keraton Cirebon Kanoman
Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, membuatnya menjadi pelabuhan dan “jembatan” antara kebudayaan Jawa dan Sunda sehingga tercipta suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.
A. Kehidupan Politik di Kesultanan Cirebon
a. Pangeran Cakrabuana
Pangeran Cakrabuana adalah keturunan Pajajaran. Putera pertama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang kedua bernama SubangLarang (puteri Ki Gedeng Tapa). Nama kecilnya adalah Raden Walangsungsang, setelah remaja dikenal dengan nama Kian Santang. Ia mempunyai dua orang saudara seibu, yaitu Nyai Lara Santang/ Syarifah Mudaim dan Raden Sangara.
Sebagai anak sulung dan laki-laki ia tidak mendapatkan haknya sebagai putera mahkota Pakuan Pajajaran. Hal ini disebabkan oleh karena ia memeluk agama Islam (diturunkan oleh Subanglarang – ibunya), sementara saat itu (abad 16) ajaran agama mayoritas di Pajajaran adalah Sunda Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha. Posisinya digantikan oleh adiknya, Prabu Surawisesa, anak laki-laki Prabu Siliwangi dari istrinya yang ketiga Nyai Cantring Manikmayang.
Ketika kakeknya Ki Gedeng Tapa yang penguasa pesisir utara Jawa meninggal, Walangsungsang tidak meneruskan kedudukan kakeknya, melainkan lalu mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Pangeran Cakrabuana, yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman, tampil sebagai “raja” Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.
b. Sunan Gunung Jati
Pada tahun 1479 M, kedudukannya kemudian digantikan putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir, yakni Syarif Hidayatullah (1448-1568) yang setelah wafat dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagai Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah.
  Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulailah oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Setelah Sunan Gunung Jati wafat, terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam Cirebon. Pada mulanya calon kuat pengganti Sunan Gunung Jati ialah Pangeran Dipati Carbon, Putra Pangeran Pasarean, cucu Sunan Gunung Jati. Namun, Pangeran Dipati Carbon meninggal lebih dahulu pada tahun 1565.
c. Fatahillah,Panembahan Ratu1 dan Panembahan Ratu 2
Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat keraton yang selama Sunan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah, pemerintahan dijabat oleh Fatahillah atau Fadillah Khan. Fatahillah kemudian naik takhta, dan memerintah Cirebon secara resmi menjadi raja sejak tahun 1568. Fatahillah menduduki takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung dua tahun karena ia meninggal dunia pada tahun 1570, dua tahun setelah Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung.
  Sepeninggal Fatahillah, oleh karena tidak ada calon lain yang layak menjadi raja, takhta kerajaan jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Emas putra tertua Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun.
  Setelah Panembahan Ratu I meninggal dunia pada tahun 1649, pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim, karena ayah Pangeran Rasmi yaitu Pangeran Seda ing Gayam atau Panembahan Adiningkusumah meninggal lebih dahulu. Pangeran Rasmi kemudian menggunakan nama gelar ayahnya almarhum yakni Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II.
  Panembahan Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan, yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Banten merasa curiga sebab Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram (Amangkurat I adalah mertua Panembahan Girilaya). Mataram dilain pihak merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri, karena Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten adalah sama-sama keturunan Pajajaran. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Girilaya di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya di Mataram.
  Panembahan Girilaya adalah menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Kesultanan Mataram. Makamnya di Jogjakarta, di bukit Girilaya, dekat dengan makam raja raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul. Menurut beberapa sumber di Imogiri maupun Girilaya, tinggi makam Panembahan Girilaya adalah sejajar dengan makam Sultan Agung di Imogiri.
B. Kehidupan di Cirebon
Kehidupan di Cirebon
Keraton Cirebon Kasepuhan
Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran), karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang.
  Mengingat pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah sebagai nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai serta pembuatan terasi, petis, dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon inilah berkembanglah sebutan cai-rebon (Bahasa Sunda:, air rebon) yang kemudian menjadi Cirebon.
  Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar dan menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa baik dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan Nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, Cirebon tumbuh menjadi cikal bakal pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.

Sejarah Agama Islam Jawa

Sejarah Awal Agama Islam Masuk Ke Tanah Jawa – Jauh sebelum Islam masuk ke daerah tanah Jawa, mayoritas masyasarakat di tanah jawa menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Selain menganut kepercayaan tersebut masyarakat Jawa juga sudah dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya Hindu dan Budha yang berasal dari India. Seiring dengan waktu berjalan tidak lama kemudian Islam mulai masuk ke Jawa melewati Gujarat dan Persi dan ada yang berpendapat langsung dibawa oleh orang Arab, terutama pedagang dari timur tengah.
Kedatangan Islam di Jawa dibuktikan dengan ditemukannya batu nisan kubur bernama Fatimah binti Maimun serta makam Maulana Malik Ibrahim. Saluran-saluran Islamisasi yang berkembang ada enam yaitu: perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian, dan politik. Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Bagaimanakah proses Islam masuk ke tanah Jawa?, Bagaimana masyarakat Jawa sebelum Islam datang?, Bagaimana peran Wali Songo dan metode pendekatannya?, Dan bagaimana Islam di Jawa paska Wali Songo? Dengan tujuan untuk mengetahui keadaan masyarakat Jawa sebelum Islam datang, peran Wali Songo di tanah Jawa dan metode pendekatannya, serta keadaan Islam di Jawa paska Wali Songo.

Islam Masuk Ke Tanah Jawa
Di Jawa, Islam masuk melalui pesisir utara Pulau Jawa ditandai dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat pada tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah adalah keturunan Hibatullah, salah satu dinasti di Persia. Di samping itu, di Gresik juga ditemukan makam Maulana Malik Ibrahim dari Kasyan (satu tempat di Persia) yang meninggal pada tahun 822 H atau 1419 M. Agak ke pedalaman, di Mojokerto juga ditemukan ratusan kubur Islam kuno. Makam tertua berangka tahun 1374 M. Diperkirakan makam-makam ini ialah makam keluarga istana Majapahit.
1. Masyarakat Jawa Sebelum Islam Datang

a. Jawa Pra Hindu-Budha
Situasi kehidupan “religius” masyarakat di Tanah Jawa sebelum datangnya Islam sangatlah heterogen. Kepercayaan import maupun kepercayaan yang asli telah dianut oleh orang Jawa. Sebelum Hindu dan Budha, masyarakat Jawa prasejarah telah memeluk keyakinan yang bercorak animisme dan dinamisme. Pandangan hidup orang Jawa adalah mengarah pada pembentukan kesatuan numinous antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodrati yang dianggap keramat.

Di samping itu, mereka meyakini kekuatan magis keris, tombak, dan senjata lainnya. Benda-benda yang dianggap keramat dan memiliki kekuatan magis ini selanjutnya dipuja, dihormati, dan mendapat perlakuan istimewa.

b. Jawa Masa Hindu-Budha
Pengaruh Hindu-Budha dalam masyarakat Jawa bersifat ekspansif, sedangkan budaya Jawa yang menerima pengaruh dan menyerap unsur-unsur Hinduisme-Budhisme setelah melalui proses akulturasi tidak saja berpengaruh pada sistem budaya, tetapi juga berpengaruh terhadap sistem agama.

Sejak awal, budaya Jawa yang dihasilkan pada masa Hindu-Budha bersifat terbuka untuk menerima agama apapun dengan pemahaman bahwa semua agama itu baik, maka sangatlah wajar jika kebudayaan Jawa bersifat sinkretis (bersifat momot atau serba memuat).

Ciri lain dari budaya Jawa pada saat itu adalah sangat bersifat teokratis. Pengkultusan terhadap raja-raja sebagai titisan dewa adalah salah satu buktinya. Dalam hal ini Onghokham menyatakan:

Dalam kerajaan tradisional, agama dijadikan sebagai bentuk legitimasi. Pada jaman Hindu-Budha diperkenalkan konsep dewa-raja atau raja titising dewa. Ini berarti bahwa rakyat harus tunduk pada kedudukan raja untuk mencapai keselamatan dunia akhirat. Agama diintegrasikan ke dalam kepentingan kerajaan/kekuasaan. Kebudayaan berkisar pada raja, tahta dan keraton. Raja dan kehidupan keraton adalah puncak peradaban pada masa itu.

Di pulau Jawa terdapat tiga buah kerajaan masa Hindu Budha, kerajaan-kerajaan itu adalah Taruma, Ho-Ling, dan Kanjuruhan. Di dalam perekonomian dan industri salah satu aktivitas masyarakat adalah bertani dan berdagang dalam proses integrasi bangsa. Dari aspek lain karya seni dan satra juga telah berkembang pesat antara lain seni musik, seni tari, wayang, lawak, dan tari topeng. Semua itu sebagian besar terdokumentasikan pada pahatan-pahatan relief dan candi-candi.

2. Peranan Wali Songo dan Metode Pendekatannya
Era Wali Songo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Wali Songo adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa peranan Wali Songo sangat besar dalam mendirikan kerajaan Islam di Jawa.

Di Pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Walisongo (9 wali). Wali ialah orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada Allah. Para wali ini dekat dengan kalangan istana. Merekalah orang yang memberikan pengesahan atas sah tidaknya seseorang naik tahta. Mereka juga adalah penasihat sultan.

Karena dekat dengan kalangan istana, mereka kemudian diberi gelar sunan atau susuhunan (yang dijunjung tinggi). Kesembilan wali tersebut adalah sebagai berikut:

  Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim). Inilah wali yang pertama datang ke Jawa pada abad ke-13 dan menyiarkan Islam di sekitar Gresik. Dimakamkan di Gresik, Jawa Timur.
Sunan Ampel (Raden Rahmat). Menyiarkan Islam di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Beliau merupakan perancang pembangunan Masjid Demak.
  Sunan Drajad (Syarifudin). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan agama di sekitar Surabaya. Seorang sunan yang sangat berjiwa sosial.
Sunan Bonang (Makdum Ibrahim). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan Islam di Tuban, Lasem, dan Rembang. Sunan yang sangat bijaksana.
Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said). Murid Sunan Bonang. Menyiarkan Islam di Jawa Tengah. Seorang pemimpin, pujangga, dan filosof. Menyiarkan agama dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan setempat.
Sunan Giri (Raden Paku). Menyiarkan Islam di Jawa dan luar Jawa, yaitu Madura, Bawean, Nusa Tenggara, dan Maluku. Menyiarkan agama dengan metode bermain.
Sunan Kudus (Jafar Sodiq). Menyiarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah. Seorang ahli seni bangunan. Hasilnya ialah Masjid dan Menara Kudus.
Sunan Muria (Raden Umar Said). Menyiarkan Islam di lereng Gunung Muria, terletak antara Jepara dan Kudus, Jawa Tengah. Sangat dekat dengan rakyat jelata.
Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Menyiarkan Islam di Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Seorang pemimpin berjiwa besar.

Salah satu cara penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para Wali tersebut ialah dengan cara mendakwah. Penyebaran Islam melalui dakwah ini berjalan dengan cara para ulama mendatangi masyarakat (sebagai objek dakwah), dengan menggunakan pendekatan sosial budaya. Pola ini memakai bentuk akulturasi, yaitu menggunakan jenis budaya setempat yang dialiri dengan ajaran Islam di dalamnya. Di samping itu, para ulama ini juga mendirikan pesantren-pesantren sebagai sarana pendidikan Islam.

3. Islam Di Jawa Paska Wali Songo
Setelah para Wali menyebarkan ajaran Islam di pulau Jawa, kepercayaan animisme dan dinamisme serta budaya Hindu-Budha sedikit demi sedikit berubah atau termasuki oleh nilai-nilai Islam. Hal ini membuat masyarakat kagum atas nilai-nilai Islam yang begitu besar manfa’atnya dalam kehidupan sehari-hari sehingga membuat mereka langsung bisa menerima ajaran Islam. Dari sini derajat orang-orang miskin mulai terangkat yang pada awalnya tertindas oleh para penguasa kerajaan. Islam sangat berkembang luas sampai ke pelosok desa setelah para Wali berhasil mendidik murid-muridnya. Salah satu generasi yang meneruskan perjuangan para Wali sampai Islam tersebar ke pelosok desa adalah Jaka Tingkir. Islam di Jawa yang paling menonjol setelah perjuangan para Wali songo adalah perpaduan adat Jawa dengan nilai-nilai Islam, salah satu diantaranya adalah tradisi Wayang Kulit.
Menyelisik Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia
Setidaknya, ada enam pendapat tentang masuknya Islam ke Indonesia.
Pertama, Islam yang masuk dan berkembang di Indonesia berasal dari Jazirah Arab atau bahkan dari Makkah pada abad ke-7 M, pada abad pertama Hijriah. Pendapat ini adalah pendapat Hamka, salah seorang tokoh yang pernah dimiliki Muhammadiyah dan mantan ketua MUI periode 1977-1981. Hamka yang sebenarnya bernama Haji Abdul Malik bin Abdil Karim mendasarkan pendapatnya ini pada fakta bahwa mazhab yang berkembang di Indonesia adalah mazhab Syafi’i.
Menurutnya, mazhab Syafi’i berkembang sekaligus dianut oleh penduduk di sekitar Makkah. Selain itu, yang tidak boleh diabaikan adalah fakta menarik lainnya bahwa orang-orang Arab sudah berlayar mencapai Cina pada abad ke-7 M dalam rangka berdagang. Hamka percaya, dalam perjalanan inilah, mereka singgah di kepulauan Nusantara saat itu.
Kedua, Islam dibawa dan disebarkan di Indonesia oleh orang-orang Cina. Mereka bermazhab Hanafi. Pendapat ini disimpulkan oleh salah seorang pegawai Belanda pada masa pemerintahan kolonial Belanda dulu.
Sebelum Indonesia merdeka, orang-orang Belanda pernah menguasai hampir seluas Indonesia sekarang sebelum ditaklukkan oleh tentara Jepang pada 1942. Tepatnya pada 1928, Poortman memulai penelitiannya terhadap naskah Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda.
Tidak berhenti di situ, ia melanjutkan penelitiannya terhadap naskah-naskah kuno Cina yang tersimpan di klenteng-klenteng Cina di Cirebon dan Semarang. Ia pun sempat mencari naskah-naskah kuno di sebuah klenteng di Batavia, Jakarta dulu.
Hasil penelitiannya itu disimpan dengan keterangan Uitsluiten voor Dienstgebruik ten Kantore, yang berarti “Sangat Rahasia Hanya Boleh Digunakan di Kantor”. Sekarang disimpan di Gedung Arsip Negara Belanda di Den Haap, Belanda.
Pada 1962, terbit buku Pongkinangolngolan Sinambela Gelar Tuanku Rao yang ditulis Mangaradja Onggang Parlindungan. Dalam buku ini dilampirkan juga naskah-naskah kuno Cina yang pernah diteliti oleh Poortman.
Ketiga, Islam yang masuk ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-12 M. Islam dibawa dan disebarkan oleh pedagang-pedagang Gujarat yang singgah di kepulauan Nusantara. Mereka menempuh jalur perdagangan yang sudah terbentuk antara India dan Nusantara.
Pendapat ketiga ini adalah pemdapat Snouck Hurgronje, seorang penasehat di bidang bahasa-bahasa Timur dan hukum Islam untuk pemerintah kolonial Belanda. Ia mengambil pendapat ini dari Pijnapel, seorang pakar dari Universitas Leiden, Belanda, yang sering meneliti artefak-artefak peninggalan Islam di Indonesia.
Pendapat Pijnapel ini juga dibenarkan oleh J.P. Moquette yang pernah meneliti bentuk nisan kuburan-kuburan raja-raja Pasai, kuburan Sultan Malik Ash-Shalih. Nisan kuburan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur, juga ditelitinya. Dan ternyata sangat mirip dengan bentuk nisan-nisan kuburan yang ada di Cambay, Gujarat.
Rupanya, pendapat Moquette yang memperkuat pendapat Pijnapel dan Hurgronje disanggah oleh S.Q. Fatimi. Pendapat Fatimi adalah nisan-nisan kuburan yang ada di Aceh dan Gresik justru lebih mirip dengan bentuk nisan-nisan kuburan yang ada di Benggala, sekitar Bangladesh sekarang.
Lebih jauh lagi, Fatimi percaya, pengaruh-pengaruh Islam di Benggala itu banyak ditemui dalam Islam yang berkembang di Nusantara dulu. Oleh karena itu, Islam yang ada di Indonesia ini sebenarnya berasal dari Bangladesh. Pendapat ini adalah pendapat keempat.
Pendapat Moquette juga disanggah oleh G.E. Marrison. Marrison malah yakin, bahwa Islam yang datang ke Indonesia berasal dari Pantai Coromandel, India Selatan. Alasannya, pada abad ke-13 M, Gujarat masih menjadi sebuah kerajaan Himdu, sedang di Pantai Coromandel Islam telah berkembang. Marrison juga berpendapat, para pembawa dan penyebar Islam yang pertama ke Indonesia adalah para Sufi India.
Mereka menyebarkan Islam di Indonesia dengan pendekatan tasawwuf pada akhir abad ke-13 M. Waktu itu, masih terhitung belum lama dari peristiwa penyerbuan Baghdad oleh orang-orang Mongol.
Penyerbuan yang dimaksud memaksa banyak Sufi keluar dari zawiyah-zawiyah mereka dan melakukan pengembaraan ke luar wilayah Bani Abbasiyah, seperti ke ujung Persia atau bahkan ke India.
Sebelum Marrison mengemukakan pendapatnya, T.W. Arnold telah meyakini bahwa Islam di Indonesia juga dibawa atau berasal dari Pantai Coromandel dan Malabar, India. Karena itu, banyak yang beranggapan bahwa Marrison memperkuat pendapat Arnold itu.
Setelah kelima pendapat itu, Hoesein Djajaningrat mengemukakan pendapat keenam tentang masuknya Islam di Indonesia. Djajaningrat dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang mempertahankan disertasi di Universitas Leiden, Belanda, pada 1913. Disertasinya itu berjudulCritische Beschouwing van de Sadjarah Banten (Pandangan Kritis mengenai Sejarah Banten).
Menurutnya, Islam yang masuk ke Indonesia berasal dari Persia. Djajaningrat beralasan, peringatan 10 Muharram atau hari Asyura sebagai hari kematian Husein bin Ali bin Abi Thalib yang ada di Indonesia berasal dari perayaan kaum Syiah di Persia. Peringatan 10 Muharram itu lebih dikenal sebagai perayaan Hari Karbala.
Djajaningrat juga yakin dengan pendapat ini, karena keberadaan pengaruh bahasa Persia di beberapa tempat di Indonesia. Selain itu, keberadaan Syeikh Siti Jenar dan Hamzah Fansuri dalam sejarah Indonesia menandakan adanya pengaruh ajaran wihdatul wujud Al-Hallaj, seorang Sufi ekstrim yang berasal dari Persia.
Dapat terlihat bahwa perbedaan pendapat itu terjadi karena dasar-dasar berpikir yang dipakai dalam membangun pendapat. Pijnapel, Hurgronje, Marrison, Moquette, Fatimi lebih mempercayai bukti-bukti kongret yang masih bisa diyakini secara pasti, bukan perkiraan.
Karena itu, pendapat-pendapat mereka lebih logis, meskipun bisa menuntut mereka untuk percaya bahwa Islam pertama kali berkembang di Indonesia pada sekitar abad ke-13 M, lebih belakangan ketimbang agama Hindu dan Buddha.
Berbeda dari pendapat Residen Poortman. Meski berdasarkan catatan-catatan Cina yang tersimpan bertahun-tahun, masih ada kemungkinan salah tafsir atas pernyataan-pernyataan tertulis yang ada di di dalamnya. Dan juga: masih besar kemungkinan adanya manipulasi data tanpa sepengetahuan para pembaca.
Pendapat Hamka bahkan lebih mudah lagi untuk terjerumus ke dalam bentuk syak yang belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya. Pendapatnya berdasarkan perkiraan-perkiraan pribadi. Pendapatnya tidak ditunjang oleh data sejarah yang kongkret. Sangat kecil kemungkinan pendapatnya untuk benar.
Demikian pula, kiranya, dengan pendapat Djajaningrat. Bisa jadi persamaan-persamaan yang dikemukakan dalam pendapatnya itu hanya kebetulan-kebetulan yang mirip pada objek.
Akan tetapi, hampir setiap pendapat itu memiliki konsekuensi. Jika seseorang memercayainya suatu pendapat dari pendapat-pendapat itu, maka, bagaimana pun, ia mesti menerima konsekuensi-konsekuensi yang ada.
Seperti jika percaya pendapat bahwa Islam dibawa masuk dari Persia, sedikit banyaknya, akan membuat kita berpikir, para penyebar Islam pertama kali di Nusantara adalah orang-orang Syiah.
Dan karena itu, Syiah adalah bentuk akidah pertama yang diterima di Indonesia. Baru setelah itu Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berkembang.
Apabila kita memercayai Islam yang masuk di Indonesia berasal dari Jazirah Arab pada abad ke-7 M, berarti orang-orang di Nusantara telah mengenal dakwah Islam sejak masa para sahabat masih hidup.
Artinya, ketika para tabi’in ramai-ramai menuntut ilmu agama pada para sahabat Nabi, segelintir orang di Nusantara juga telah mengenal Islam yang sama pada waktu itu. Hanya jarak yang memisahkan mereka.
Demikian pula, jika kita menerima pendapat bahwa Islam berasal dari Pantai Coromandel, India Selatan. Jika pendapat ini yang kita terima, maka bisa dipastikan para pemeluk pemula Islam di Indonesia adalah orang-orang yang berakidah dengan akidah Sufi atau setidaknya mengenal Islam lewat kacamata tasawwuf

Hukum Bunga Bank dalam Islam

Hukum Bunga Bank dalam Islam


A. Pendahuluan.

Makna harfiyah dari kata Riba adalah pertambahan, kelebihan, pertumbuhan atau peningkatan. Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil. Para ulama sepakat bahwa hukumnya riba adalah haram. Sebagaimana firman Allah swt dalam surat Ali Imran ayat 130 yang melarang kita untuk memakan harta riba secara berlipat ganda.

B. Pokok Masalah.

Apakah bunga bank termasuk kategori riba?

C. Dalil-Dalil.

Ada banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang keharaman riba, diantaranya:
  • Surat Al-Baqarah, ayat 275:
    Orang-orang yang makan (mengambil) RIBA’ tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan RIBA’, padahal Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan RIBA’. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil RIBA’), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Alloh. Orang yang kembali (mengambil RIBA’), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
  • Surat Ali ‘Imran, ayat 130:
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
  • Surat Ar-Rum, ayat 39:
    Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.

D. Pendapat Ulama.

  • Jumhur (mayoritas/kebanyakan) Ulama’ sepakat bahwa bunga bank adalah riba, oleh karena itulah hukumnya haram. Pertemuan 150 Ulama’ terkemuka dalam konferensi Penelitian Islam di bulan Muharram 1385 H, atau Mei 1965 di Kairo, Mesir menyepakati secara aklamasi bahwa segala keuntungan atas berbagai macam pinjaman semua merupakan praktek riba yang diharamkan termasuk bunga bank. Berbagai forum ulama internasional yang juga mengeluarkan fatwa pengharaman bunga bank.
  • Abu zahrah, Abu ‘ala al-Maududi Abdullah al-‘Arabi dan Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa bunga bank itu termasuk riba nasiah yang dilarang oleh Islam. Karena itu umat Islam tidak boleh bermuamalah dengan bank yang memakai system bunga, kecuali dalam keadaan darurat atau terpaksa. Bahkan menurut Yusuf Qardhawi tidak mengenal istilah darurat atau terpaksa, tetapi secara mutlak beliau mengharamkannya. Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Syirbashi, menurutnya bahwa bunga bank yang diperoleh seseorang yang menyimpan uang di bank termasuk jenis riba, baik sedikit maupun banyak. Namun yang terpaksa, maka agama itu membolehkan meminjam uang di bank itu dengan bunga.
  • Dr. Sayid Thantawi yang berfatwa tentang bolehnya sertifikat obligasi yang dikeluarkan Bank Nasional Mesir yang secara total masih menggunakan sistem bunga, dan ahli lain seperti Dr. Ibrahim Abdullah an-Nashir dalam buku Sikap Syariah Islam terhadap Perbankan mengatakan, “Perkataan yang benar bahwa tidak mungkin ada kekuatan Islam tanpa ditopang dengan kekuatan perekonomian, dan tidak ada kekuatan perekonomian tanpa ditopang perbankan, sedangkan tidak ada perbankan tanpa riba. Ia juga mengatakan, “Sistem ekonomi perbankan ini memiliki perbedaan yang jelas dengan amal-amal ribawi yang dilarang Al-Qur’an yang Mulia. Karena bunga bank adalah muamalah baru, yang hukumnya tidak tunduk terhadap nash-nash yang pasti yang terdapat dalam Al-Qur’an tentang pengharaman riba
  • Pendapat A. Hasan, pendiri dan pemimpin Pesantren Bangil (Persis) berpendapat bahwa bunga bank seperti di negara kita ini bukan riba yang diharamkan, karena tidak bersifat ganda sebagaimana yang dinyatakan dalam surat Ali Imran ayat 130.
  • Menurut musyawarah nasional alim ulama NU pada 1992 di Lampung, para ulama NU tidak memutus hukum bunga bank haram mutlak. Memang ada beberapa ulama yang mengharamkan, tetapi ada juga yang membolehkan karena alasan darurat dan alasan-alasan lain.
  • Hasil rapat komisi VI dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-27 Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menetapkan, bunga perbankan termasuk riba sehingga diharamkan.

E. Analisa.

Larangan al-Qur’an terhadap pengambilan riba adalah jelas dan pasti. Sepanjang pengetahuan tidak seorang pun mempermasalahkannya. Tetapi pertentangan yang ditimbulkan adalah mengenai perbedaan antara riba dan bunga. Salah satu mazhab pemikiran percaya bahwa apa yang dilarang Islam adalah riba, bukan bunga. Sementara suatu mazhab pemikiran lain merasa bahwa sebenarnya tidak terdapat perbedaan antara riba dan bunga. Karena itu pertayaan pertama yang harus dijawab adalah apakah ada perbedaan antara riba dalam al-Qur’an dan bunga dalam dunia kapitalis.
Menurut para ulama fiqih, riba dibagi menjadi 4 (empat) macam:
  1. Riba Fadhl, yaitu tukar menukar dua barang yang sama jenisnya dengan tidak sama timbangannya atau takarannya yang disyaratkan oleh orang yang menukarkan. Contoh: tukar menukar dengan emas, perak dengan perak, beras dengan beras, gandum dan sebagainya.
  2. Riba Qardh, yaitu meminjamkan sesuatu dengan syarat ada keuntungan atau tambahan bagi orang yang meminjami/mempiutangi. Contoh : Andi meminjam uang sebesar Rp. 25.000 kepada Budi. Budi mengharuskan Andi mengembalikan hutangnya kepada Budi sebesar Rp. 30.000. maka tambahan Rp. 5.000 adalah riba Qardh.
  3. Riba Yad, yaitu berpisah dari tempat sebelum timbang diterima. Maksudnya: orang yang membeli suatu barang, kemudian sebelumnya ia menerima barang tersebut dari sipenjual, pembeli menjualnya kepada orang lain. Jual beli seperti itu tidak boleh, sebab jual-beli masih dalam ikatan dengan pihak pertama.
  4. Riba Nasi’ah, yaitu tukar menukar dua barang yang sejenis maupun tidak sejenis yang pembayarannya disyaratkan lebih, dengan diakhiri/dilambatkan oleh yang meminjam. Contoh : Rusminah membeli cincin seberat 10 Gram. Oleh penjualnya disyaratkan membayarnya tahun depan dengan cincin emas seberat 12 gram, dan jika terlambat satu tahun lagi, maka tambah 2 gram lagi menjadi 14 gram dan seterusnya.
Jika kita melihat pengertian riba yang tercantum dalam surat al-Rum ayat 39, “riba adalah nilai atau harga yang ditambahkan kepada harta atau uang yang dipinjamkan kepada orang lain.” Maka bunga bank sama dengan riba. Oleh karena itu wajarlah jika MUI dan OKI mengeluarkan fatwa bahwa bunga bank adalah haram. Namun begitu, hukum Islam sangatlah fleksibel. Artinya bagi Anda yang tinggal di daerah dimana tidak ada bank syariah seperti di NTT misalnya, sementara transaksi perbankan sangatlah krusial bagi bisnis Anda, maka hukumnya menjadi makruh. Hukum Islam itu gampang untuk dijalankan tapi jangan digampangkan.
Demikianlah tulisan artikel singkat tentang riba. Like, twit atau komentar Anda sangat kami harapkan. Terima kasih.

Asal usul ISIS dan ISIL

Negara Islam Irak dan Syam (ISIS /ˈaɪsɪs/) (Bahasa Arab:الدولة الاسلامية في العراق والشام al-Dawlah al-Islāmīyah fī al-ʻIrāq wa-al-Shām) juga dikenal sebagai Negara Islam (bahasa Inggris: Islamic State (IS) bahasa Arab: الدولة الإسلامية ad-Dawlah al-ʾIslāmiyyah), dan Negara Islam Irak dan Levant (bahasa Inggris: Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL)) adalah sebuah negara dan kelompok militan jihad yang tidak diakui di Irak dan Suriah. Kelompok ini dalam bentuk aslinya terdiri dari dan didukung oleh berbagai kelompok pemberontak Sunni, termasuk organisasi-organisasi pendahulunya seperti Dewan Syura Mujahidin dan Al-Qaeda di Irak (AQI), termasuk kelompok pemberontak Jaysh al-Fatiheen, Jund al-Sahaba, Katbiyan Ansar Al-Tawhid wal Sunnah dan Jeish al-Taiifa al-Mansoura, dan sejumlah suku Irak yang mengaku Sunni.

ISIS dikenal karena memiliki interpretasi atau tafsir yang keras pada Islam dan kekerasan brutal seperti bom bunuh diri, dan menjarah bank. Target serangan ISIS diarahkan terutama terhadap Muslim Syiah dan Kristen. Pemberontak di Irak dan Suriah ini telah menewaskan ribuan orang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan lebih dari 2.400 warga Irak yang mayoritas warga sipil tewas sepanjang Juni 2014. Jumlah korban tewas ini merupakan yang terburuk dari aksi kekerasan di Irak dalam beberapa tahun terakhir. Aksi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ini telah menyebabkan tak kurang dari 30.000 warga kota kecil di timur Suriah harus mengungsi.

Tokoh Sentral di Balik Militan ISIS adalah Abu Bakar al-Baghdadi. Di bawah kepemimpinannya, ISIS menyatakan diri untuk bergabung dengan Front Al Nusra, kelompok yang menyatakan diri sebagai satu-satunya afiliasi Al-Qaidah di Suriah. ISIS memiliki hubungan dekat dengan Al-Qaeda hingga tahun 2014. Namun karena misi berbelok dari misi perjuangan nasional dengan menciptakan perang sektarian di Irak dan Suriah dan penggunaan aksi-aksi kekerasan, Al-Qaidah lalu tidak mengakui kelompok ini sebagai bagian darinya lagi. Abu Bakar al-Baghdadi bahkan bersumpah untuk memimpin penaklukan Roma. Pemimpin militan ISIS Abu Bakar al-Baghdadi ini juga menyerukan umat Islam untuk tunduk kepadanya

DAKWAH SOLUSI

Usaha umat Islam memperbaiki diri lewat dakwah memang tidak pernah berhenti. Tetapi gerakan dakwah ng dilakukan tidak selalu efektif. Kemunkaran yang ingin dibasmi bukannya berkurang, malah terus membengkak. Hal ini mungkin karena pendekatan dakwah belum begitu tepat.

Gerakan dakwah saat ini cenderung terbagi: pertama, konfrontasi,dan kedua, solusi. Dakwah konfrontasi mengambil posisi berseberangandengan masyarakat. Pelaku maksiat, fasiq dll yang notabene umat Islam juga dihantam dengan bahasa keras dan vulgar. Khutbah, ceramah, dan pengajian disampaikan penuh semangat dan nada tinggi. Dainya puas karena sudah berani berkata benar walaupun pahit. Sebagian pendengar mungkin juga senang, bahkan memberi aplaus. Tetapi tidak mustahil banyak yang makin kusut, tegang dan sumpek. Mereka bingung, ingin memperbaiki diri tetapi tidak menemukan solusi.
Allah swt memperingatkan, dakwah dengan kata-kata keras dan kasar justru akan membuat orang menjauh. Meminjam istilah Ibu Dra. Hj. Masyithah Umar, MHum, akademisi IAIN Antasari Banjarmasin, pendekatan pertama dapat disebut dakwah tabrak lari. Para dai hanya menghantam dan mengecam, bahkan mencaci maki, tanpa tindak lanjut usaha yang bertanggung jawab untuk memperbaiki secara nyata.
Akibatnya terjadi gap yang makin menganga, kemaksiatan tidak kunjung berkurang. Justru dai, dakwah dan masjid dijauhi. Orang yang merasa dirinya ebrgelimang dosa takut ke masjid, enggan ke pengajian, takut kalau disinggung dan disindir. Akhirnya dakwah agama dianggap momok dan beban, bukan embun yang menyejukkan dan obat penawar yang menyembuhkan.
Dalam dakwah solusi, pelaku maksiat dan fasiq didekati dengan hati nurani sambil dicarikan jalan keluarnya. Sering caranya diam-diam tanpa ublikasi, hasilnya banyak orang insyaf. Orang yang cuek pada agama jadi taat, tadinya preman, maksiat dan abangan mau bertaubat dan menjadi muslim betulan, dst. Inilah salah satu esensi dakwah. Para ahli menyaakan, di antara hakikat dakwah adalah mengubah suatu keadaan yang sebelumnya tidak baik menjadi baik.
Tentu berat jika ini dikerjakan dai saja. Usaha ke arah ini membutuhkan keterpaduan gerakan. Pemilik modal, sarana dan berbagai kompetensi perlu terlibat.
Ragam Pendekatan Sayang dari dua model ini, dakwah konfrontasi justru lebih menonjol, sementara dakwah solusi terabaikan. Masih banyak juru dakwah yang merass bangga ketika materi dskwahnya diberi tepuk tangan, tanpa meneliti dampak dan tindak lanjut dari isi dakwahnya.
Kenyataan ini disebabkan: Pertama, para dai dan aktivis dakwah terlalu banyak menguasai materi dakwah, sedangkan metodenya kurang. Padahal dalam dakwah berlaku kaidah: al-thariqatu ahammu min al-maddah (metode lebih penting daripada isi).
Kedua, dai dan aktivis dakwah terlalu bersemangat. Mungkin karena masih muda atau baru mengalami konversi agama, baru mempelajari sejumlah bacaan agama, semangatnya tidak tertahankan. Terlalu menggebu kadang terlanggar rambu dan lupa memenej qalbu sendiri dan orang lain.
Ketiga, dai dan aktivis dakwah lupa bahwa memperbaiki orang memerlukan pendekatan interdisipliner, lintas sektoral. Melarang pelacuran dan miras, tidak sekadar mencap zina dan mabok haram, tetapi diupayakan orang tidak melacur dan mabok lagi. Keberhasilan Gubernut DKI Sutiyoso ersama para ulama dan habaib Betawi menutup Kompleks WTS Kramaat Tunggak, lalu menyulapnya menjadi Jakarta Islamic Center, patut dijadikan model dakwah solusi ini (Penulis, BPost 5 Januari 2013).
Keempat, walau membawa bendera dakwah, metode dakwah Nabi sering terlupakan, padahal Rasulullah adalah teladan kita semua termasuk dalam berdakwah. Nabi lebih banyak menggembirakan dan memberi solusi, sesuai pesan beliau: “mudahkan dan jangan persulit, gembirakan dan jangan ditakut-takuti” (Shahih al-Bukhari I, 1401 H: 25). Nabi bersikap keras kepada orang kafir yang memusuhi, tetapi nonmuslim yang bersahabat, apalagi sesama muslim termasuk yang masih maksiat, beliau sayang dan santun.
Ketika ada Arab Badui kencing di Masjid, sebab Masjid Nabawi terlalu sederhana dan jauh dari mewah seperti sekarang, beliau tidak marah. Ketika ada pemuda minta izin berzina, beliau juga tidak marah. Beliau hanya minta pemuda itu mengembalikan urusannya kepada dirinya sendiri, bagaimana perasaannya jika istrinya, ibunya, dan anak perempuannya dizinai orang, apakah ia senang. Akhirnya sang pemuda sadar dan tak lagi mau berzina. Nabi saw juga suka memuji para sahabat dengan melihat sisi baiknya, bukan kekurangannya. Dari akhlak terpuji inilah Islam semakin diterima kawan dan lawan.
Para ulama Walisongo dulu sukses berdakwah di tanah Jawa juga karena mereka mampu berdakwah sambil memberi solusi terhadap problema masyarakat. Ketika ada warga yang sakit sang wali mampu mengobati. Ketika masyarakat ditimpa kekeringan dan paceklik, sang wali manjur doanya sehingga hujan turun dan tanaman subur. Saat masyarakat ditimpa kezaliman dan teraniaya, para wali mampu tampil paling depan melakukan pembelaaan.
Mereka menguasai ilmu agama dan digjaya. Rata-rata punya keahlian bela diri yang sesekali digunakan jika terdesak Problema Sosial Sebanyak 39,5 juta penduduk Indonesia (2006) terkategori miskin.
Kalsel dengan 3,363,691 jiwa penduduk, tercatat 250.743 rumah tangga miskin dan penerima BLT lebih 1 juta jiwa. Seorang pengamat dari luar daerah heran melihat fenomena di Kalsel, kemiskinan tinggi tetapi kuota hajinya selalu terlampaui (haji reguler, plus dan umrah di atas rata-rata nasional). Pertumbuhan mall subur, mobil mewah lalu lalang, penjualan mobil dan motor terus meningkat. Pengamat itu menduga kepedulian dan sharing kaya - miskin di daerah ini rendah. Orang kaya lebih memilih enak dan saleh individual daripada beramal sosial. Dalam teori kejahatan Harvey Brenner (1986) keterpurukan ekonomi dan keputusasaan adalah faktor dominan penyebab orang berbuat jahat, kriminal, melanggar hukum agama dan negara (istilah dakwahnya kemaksiatan/kemunkaran). Mengatasinya harus dengan melihat akar  enyebabnya. Nabi saw mengatakan, hampir saja kemiskinan itu mendatangkan kekafiran (al-Jamius Shaghir 2: 89). Kafir di sini tidak selalu dalam arti pindah agama,tetapi juga suka bermaksiat mengabaikan dan melanggar agama karena putus asa tanpa ada yang mau menolong.
Sangat bijak jika orang miskin dan preman yang cuek agama didekati dakwah bilhaal dengan bantuan ekonomi, modal dan lapangan kerja,
pengobatan, biaya pendidikan, dll. Sangat elok kalau lelaki bertanggung jawab dan mengerti agama bersedia mengawini PSK yang mau sadar, sebab fenomena prostitusi sering karena persoalan ekonomi, frustrasi, kecewa dan broken home. Sangat bijak jika lelaki kaya bersedia mengawini janda yang banyak anak. Sangat cantik jika orang-orang kaya bersedia menjadi orang tua asuh warganya yang putus sekolah dst. Dakwah begini sunyi dari tepuk tangan dna publikasi, tetapi sesungguhnya sangat efektif menyelamatkan orang dari keterpurukan dan kubangan lumpur. Besar sekali pahalanya jika para dermawan mencarikan solusi, misalnya menyediakan pekerjaan dengan upah layak kepada kalangan rendahan yang tidak bekerja, yang sangat mungkin terjerumus premanisme. Orang yang pekerjaannya menyerempet maksiat, biasanya karena kesulitan bekerja halal. Sudah seharusnya pemerintah dan pihak terkait meningkatkan sektor
riil agar lapangan kerja terbuka luas. Penggusuran PKL tanpa solusi rentan

menimbulkan problema ekonomi yang parah dan keputusasaan dengan segala akibatnya.
Tren maksiat dan hedonis yang terjadi di kalangan menengah atas mungkin karena kekurangan pedoman hidup dan minim agama. Solusinya dakwah yang menyadarkan, mencerdaskan dan mendekatkan kepada Allah, seperti Jamaah Tabligh, Training ESQ, Pelatihan Tahajud, Shalat khusyu’, Majelis Zikir, Tarekat dan Istigotsah, diskusi, seminar, dlsb.

Perbedaan cara pendekatan dakwah ini hendaknya diterima sebagai rahmat, tidak perlu saling kecam antarasesama dai dan aktivis dakwah. Para ulama dan juru dakwah tidak boleh eksklusif dan merasa lebih hebat dan pintar atas yang lain. Kita semua harus saling isi dan melengkapi. Metode

boleh berbeda, yang penting semangat dan tujuannya sama, yaitu izzul Islam wal-muslimin. Allahu A’lam.

Pengamat sosial keagamaan, Sekretaris Umum

Yayasan & Badan Pengelola Masjid At-Taqwa Banjarmasin

Hukum Islam Perkawinan usia Dini Muda

PERKAWINAN USIA DINI / USIA MUDA

Oleh

Drs. Guperan Sahyar Gani, B., S.Pd

A. TINJAUAN PERKAWINAN MENURUT AJARAN ISLAM

Perkawinan atau pernikahan adalah sesuatu yang suci sakral, memiliki makna dan arti yang sangat mendalam menjalankan sunnah rasul dan bagian dari pada ibadah kepada Allah swt dengan tujuan membina kehidupan suami istri dalam ikatan lahir bathin yang menuju kehidupan rumah tangga yang bahagia sejahtera, mateial spiritual, aman damai, rukun tuntung pandang yang dalam bahasa agama disebut dengan keluarga sakinah sa’adah dan marhamah. (Baiti Jannati).

Betapa luhur dan mulianya sebuah perkawinan atau pernikahan, maka sudah seyogyanya harus diperhatikan, dipertimbangkan serta dipikirkan dengan matang terlebih dahulu ketika seorang pria atau wanita menjatuhkan pilihan untuk menjadi teman hidupnya, ia harus memikirkan tentang segala sesuatu yang muncul dari rangkaian akibat yang muncul di balik peristiwa pernikahan itu.

Karena perkawinan bukanlah sesuatu yang harus dijadikan arena bereksperimen, hanya sekedar “coba-coba” atau hanya sekedar ingin tahu, hanya untuk main-main dan seterusnya.

Perkawinan harus dilaksanakan sesuai dengan hukum dan ketentuan agama (hukun munakahat) dan peraturan perundang-undangan

4 Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel 5 yang berlaku. Perkawinan yang tidak dilaksanakan sesuai dengan perundangan yang berlaku kelak dapat mengakibatkan masalah dalam kehidupan keluarga, sedang kehidupan suami istri di luar perkawinan adalah perzinaan (kumpul kebo) dan perzinaan dalam agama Islam adalah termasuk dosa besar.

Dalam Undang-Undang perkawinan dan hukum perkawinan Islam terdapat ketentuan dan peraturan tentang dasar, tujuan, rukun dan syarat perkawinan. Secara singkat hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut;
Dasar dan tujuan perkawinan menurut Undang-undang No. 1 tahun
74, tentang Perkawinan tercantum pada pasal 1 dan pasal 2. Dalam pasal 1 disebutkan : perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Selanjutnya dalam pasal 2 disebutkan:

1. Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-
masing agamanya dan kepercayaannya itu.

2. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

B. BEBERAPA DALIL AL-QUR`AN DAN HADITS YANG

BERHUBUNGAN DENGAN PERKAWINAN DAN PERNIKAHAN

Di antara nas Alquran dan hadits rasul saw yang berhubungan dengan perkawinan adalah:

Dan kawinlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang berpekerti baik termasuk hamba-hamba sahayamu baik yang laki-laki atau yang perempuan (Q.S. An-Nur : 32)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan  untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (Ar-Rum ; 21).

Rasul saw bersabda:

Hai sekalian Pemuda, barangsiapa di antara kamu yang telah sanggup kawin maka hendaklah ia kawin, maka sesungguhnya kawin itu menghalangi pandangan (terhadap yang dilarang oleh agama) dan memelihara faraj. Dan barangsiapa yang tidak sanggup, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu adalah perisai baginya. (HR. Buhari dan Muslim).

Perkawinan adalah sunahku, barang siapa yang benci kepada sunnahku (peraturanku) bukanlah ia termasuk golonganku (ummatku).
(HR. Bukhari dan Muslim).

Kawinlah perempuan-perempuan, karena sesungguhnya mereka itu akan mendatangkan harta dan kekayaan. (HR. Bazar dan Khatib dari Aisyah)

Istri-istrimu adalah seperti tanah tempat kamu bercocok tanam maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu sebagaimana saja kamu kehendaki (Q.S Al Baqarah:223)

C. PERKAWINAN USIA DINI / USIA MUDA

Undang-undang perkawinan mengamanatkan kepada kita bahwa usia perkawinan minimal untuk wanita 16 tahun dan pria 19 tahun. Bila seorang wanita di bawah umur 16 tahun akan melangsungkan suatu pernikahan, maka ia harus melalui izin Pengadilan. Demikian pula halnya pria atau laki-laki yang kurang 19 tahun maka harus dengan izin atau rekomendasi Pengadilan dan di bawah 21 tahun harus dengan izin orang tua.

Undang-undang perkawinan di atas tentu tentu lebih berorientasi pada kemaslahatan serta azas manfaat dan efektivitas dilakukannya sebuah pernikahan bagi kedua belah pihak baik mempelai laki-laki dan juga mempelai wanita. Mengingat usia 16 tahun ke bawah bagi seorang wanita dan 19 tahun ke bawah bagi laki-laki merupakan masa-masa yang rawan dan kritis atau masa transsisi yang mana tingkat kemampuan dan ematangan jiwa, raga, pisik, emosional dan kecerdasan sosialnya belum sempurna.

Ketika pada usia-usia seperti ini dipaksakan untuk kawin, maka dikhawatirkan akan muncul masalah-masalah dan problema bahkan dilema sebuah perkawinan. Pada usia ini seseorang semestinya mengecap dan menjalani bangku pendidikan/sekolah/kuliah sebagai modal dasar dan modal awal untuk menghadapi masa depan yang lebih baik.

Secara umum perkawinan usia muda/usia dini disebabkan beberapa faktor.

a. Tuntutan dan himpitan ekonomi keluarga
Ketika tuntutan ekonomi keluarga, terjadi krisis keuangan, ketiadaan biaya untuk melanjutkan sekolah (drop out) atau kegagalan dalam pendidikan, bisa memicu terjadinya potong kompas dan jalan pintas yaitu kawin usia dini sebagai alternatif solusi.

Maraknya gaya hidup bebas, dan pergaulan muda-mudi tanpa batas sehingga sering terjerumus pada perzinaan atau hamil di luar nikah.

Maraknya pornoaksi dan pornografi, tayangan-tayangan film sinetron drama dan teater gambar dan poster, buka-buku, majalah, buletin, dan bacaan-bacaan porno yang merusak mental dan jiwa anak-anak dan remaja atau generasi muda.

Kurangnya pengetahuan dan pemahaman dari seks bebas dari segala dampak negatif dan problematikanya yang muncul akibat seks bebas tersebut.

Adat istiadat dan budaya yang masih kental di masyarakat di mana ketika seseorang memiliki atau menyimpan dan membiarkan anak gadisnya agak terlambat untuk menikah maka terjadi aib bagi keluarga
yang bersangkutan.

Menganggap bahwa perempuan sebagai warga negara kelas dua yang kehidupannya hanya berkisar dan berkembang pada sumur, dapur dan kasur, artinya perempuan hanya jadi pelengkap dan obyek penderita.

D. MASALAH DAN PROBLEMA YANG TIMBUL AKIBAT

PERKAWINAN USIA MUDA

Di antara sekian banyak masalah yang muncul dari perkawinan usia muda adalah :

1. Kurangnya pemahaman tentang tugas, fungsi, hak dan kewajiban serta tanggung jawab yang harus dipikul baik sebagai suami juga sebagai istri.

2. Belum matang secara fisik/psikis, prilaku dan emosional seseorang untuk menempuh kehidupan berumah tangga.

3. Sering terjadi konflik dalam rumah tangga yang berujung pada perselisihan dan perceraian.

E. BEBERAPA SOLUSI DAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA

1. Sosialisasi undang-undang perkawinan yang lebih efektif dan terkoordinasi antar lembaga dan instansi terkait.

2. Peningkatan sumber daya manusia melalui bidang pendidikan formal di sekolah dan pendidikan non formal di masyarakat umum untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak dan remaja usia sekolah untuk terus maju menuntut ilmu dan berprestasi.

3. Perlu pemahaman yang besar tentang kesadaran gender emansipasi yang proporsional yang menempatkan wanita pada posisi terhormat dan mulia, soko guru generasi penerus yang beriman dan berakhlak mulia.

4. Bagi kaum hawa perlu dipacu semangat dan motivasi agar perempuan senantiasa berpikiran maju berkiprah dan berkarya di tengah masyarakat demi tegak dan majunya sebuah negara.

5. Mengutip pendapat dari seorang tokoh dan intelektual Islam Prof. Dr. H. Abdul Mukti Ali Mantan Menteri Agama RI, beliau menandaskan “Kalau orang bertanya bagaimana caranya membangun negara yang kuat, maka jawabnya negara yang kuat adalah terdiri dari rumah tangga yang adil dan negara yang makmur adalah terdiri dari rumah-tangga yang makmur. Jadi kalau ingin membangun negara kita dengan sebaik-baiknya, maka keluarga yang menjadi isi rumah tangga harus kita bangun sebaik-baiknya. Tanpa membangun keluarga mustahil akan tercapai pembangunan negara.

PERAN DAN FUNGSI PENYULUH AGAMA ISLAM

PERAN DAN FUNGSI PENYULUH AGAMA ISLAM

Oleh

Dra. Hj. Nurmilati, AM, MAP

Penyuluh Agama adalah Pembimbing umat beragama dalam rangka

pembinaan mental , moral dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Berdasarkan Keputusan Menkowasbang pan No 54/1999 Penyuluh Agama

adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang

dan hak secara penuh oleh yang berwenang untuk melaksanakan bimbingan

dan penyuluhan Agama dan pembangunan kepada masyarakat melalui bahasa

Agama.

Tugas pokok Penyuluh: Melaksanakan penyuluhan Agama,

Menyusun dan menyiapkan program, Melaksanakan dan melaporkan serta

Mengevaluasi/memantau hasil pelaksanaan; Memberikan bimbingan dan

konsultasi; Memberi arahan dalam peningkatan ketaqwaan dan kerukunan

umat beragama serta keikutsertaan dalam keberhasilan pembangunan .

Macam- macam Penyuluh:

1. Penyuluh Agama Muda: Penyuluh Agama yang bertugas pada

masyarakat di lingkungan pedesaan.

2. Penyuluh Agama Madya: Penyuluh Agama yang bertugas pada

PB Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel 1

masyarakat di lingkungan perkotaan.

3. Penyuluh Agama Utama: Penyuluh Agama yang bertugas pada

masyarakat di lingkungan para pejabat instansi pemerintah /swasta.

Sasaran Penyuluh:

1. Masyarakat Transmigrasi

2. Generasi muda

3. Lembaga Pemasyarakatan

4. Pramuka

5. Kelompok orang tua

6. Kelompok wanita

7. Kelompok masyarakat industri

8. Kelompok profisi

9. Masyarakat daerah rawan

10. Masyarakat suku terasing.

11. Inrehabilitasi / pondok sosial

12. Rumah sakit

13. Kompleks perumahan;

14. Asrama

15. Kampus / masyarakat Akademis

16. Karyawan instansi Pemerintah / swasta

17. Daerah pemukiman baru

18. Pejabat instansi Pemerintah / swasta

19. Masyarakat dikawasan industri.

20. Masyarakat real estate

21. Masyarakat peneliti / para ahli

22. Masyarakat gelandangan / pengemis

23. Balai desa

24. Tuna susila

25. Masyarakat pasar.

Pendekatan penyuluh

Pendekatan sosial

Pendekatan sejarah

2 Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel 3

Pendekatan ekonomi

Pendekatan polotik

Pendekatan iptek

Pendekatan imtaq

Pendekatan pendidikan .

Kebijakan :

Penyuluh Agama Honorer ( PAH )

- Penyuluh Agama Muda

- Penyuluh Agama Madya

- Penyuluh Agama Utama ( QualityAssurance)

Masa bakti para penyuluh ini tergantung dari kepercayaan Kementerian

Agama yang dinyatakan dalam surat pengangkatan untuk menjadi PAH

dengan masa berlaku selama satu tahun dan dapat diperpanjang untuk tahun

berikutnya.



Penyuluh Agama Fungsional ( PNS )

1. Penyuluh Agama Terampil

a. Pelaksana < Gol II/b sd II/ d

b. Pelaksana lanjutan < Gol III /a sd III/b

c. Penyelia < Gol III/C sd III/D

2. Penyuluh Agama Ahli

a. Pertama < Gol III/a sd III/b

b. Muda < Gol III/c sd III/d

c. Madya < Gol IV/a sd IV/c

Pelaksanaan Tugas Penyuluh Agama Fungsional diatur berdasarkan tugas

pokok masing-masing tingkat jabatan yang dimilikinya dan setiap pelaksanaan

tugas pokok penyuluh Agama dihargai dalam bentuk angka kredit yang dapat

dijadikan sebagai salah satu syarat untuk kenaikan pangkat.

Sumber agama dan ajaran islam

Pada judul bab ini dua hal penting yang sebaiknya dij elaskan lebih dahqu yaitu sumber agama
Islam atau kadang-kadang disebut sumber ajaran agama Islam dan sumber ajaran Islam. Kedua ungkapan
(kalimat) itu mempunyai hubungan yang sangat erat, dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.
Ajaran Islam adalah pengembangan ajaran Islam. Agama Islam bersumber dari Al-Quran yang memuat
Wahyu Allah dan Al-Hadits yang memuat Sunnah Rasulullah. Komponen utama agama Islam atau
unsur utama aj aran agama Islam (akidah, syariah dan akhlak) dikembangkan dengan ra ’yu atau akal
pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk mengembangkannya. Yang dikembangkan adalah aj aran
agama yang terdapat dalam Al-Qur’ an dan Al-Hadits. Dengan kata lain, yang dikembangkan lebih lanjut
supaya dapat dipahami manusia adalah Wahyu Allah dan Sunnah Rasul yang merupakan agama (Islam)
itu. Dengan uraian singkat ini jelaslah bahwa sumber agama Islam atau sumber ajaran agama Islam
adalah Al-Quran dan Al-Hadits.

Jelas pula bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang bersumber dari agama Islam yang dikembangkan
oleh akal pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk mengembangkannya. Dengan demikian, ajaran
Islam merupakan pengembangan agama atau ajaran agama Islam. Sumber utamanya sama yaitu Al-
Qur’an dan Al-Hadits, tetapi untuk ajaran Islam ada sumber tambahan atau sumber pengembangan
yaitu ra ’yu atau akal pikiran manusia. Dengan begitu, dalam Islam ada dua aj aran yang disebut ajaran
dasar atau ajaran fundamental dan ajaran tidak dasar, (tetapi jangan dipandang tidak penting) yang
disebut ajaran instrumental, ajaran yang merupakan sarana atau alat untuk memahami ajaran dasar.
Dengan kedua ajaran itu kita akan dapat melihat dan memahami agama Islam secara baik dan benar.

Dan, kalau kedua ajaran itu (agama Islam dan aj aran Islam) dihubungkan dengan komitmen
(keterikatan) muslim dan muslimah terhadap Islam, maka aj aran agama atau agama Islam diwajibkan
kepada setiap pemeluk agama Islam untuk mempelaj arinya. Mempelaj ari agama Islam merupakan fardu
‘ain yakni kewaj iban pribadi setiap muslim dan muslimah, sedang mengkaji ajaran Islam, terutama
yang dikembangkan oleh akal pikiran manusia, diwajibkan kepada masyarakat atau kelompok masyakat
untuk mempelaj arinya. Mempelaj ari aj aran Islam tersebut terakhir ini merupakan fardu kifayah yakni
kewaj iban kemasyarakatan kaum muslimin.

Apabila telah ada sekelompok orang mempelaj ari Salah satu ilmu keislaman, misalnya ilmu flkih
atau ilmu tentang syari’ah, yang lain tidak berdosa kalau tidak mempelaj arinya. Namun, kalau tidak ada
seorang Islampun mempelajarinya, semua anggota masyarakat muslim di suatu tempat pada suatu masa,
berdosa.(mohammad Daud Ali :1997: 89)

Dalam uraian berikut akan dij elaskan, kendatipun dalam garis besarnya, sumber agama dan sumber
aj aran Islam. Kalau disebut sumber aj aran Islam, di dalamnya telah termasuk pembicaraan mengenai
sumber agama atau sumber ajaran agama Islam.

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1986) Sumber adalah asal sesuatu. Sumber aj aran adalah asal ajaran Islam (termasuk sumber agama Islam di dalamnya). Allah telah menetapkan sumber
ajaran Islam yang wajib diikuti oleh setiap muslim. Ketetapan Allah itu terdapat dalam surat An-
Nisa’ ayat 59:

Yang artinya  “Hai orang-orang yang berìman, taatilah (kehendak) Allah, taatilah Ucehendak)
Nya), dan (kehendak) ulil amri di antara kamm,...  Menurut Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 59 itu setiap
mukmin (orang-orang yang beriman) waj ib mengikuti kehendak Allah, kehendak Rasul dan kehendak
penguasa atau ulil amri (kalangan) mereka sendiri. Kehendak Allah kini terekam dalam Al-Quran,
kehendak Rasul terhimpun sekarang dalam Al-Hadits, kehendak penguasa (ulil amri) termaktub dalam
kitab-kitab hasil karya orang yang memenuhi syarat karena mempunyai “kekuasaan” berupa ilmu
pengetahuan untuk mengalirkan aj aran Islam dari dua sumber utamanya itu yakni Al-Qur’an dan Al-
Hadits dengan rakyu atau akal pikirannya. Sumber ajaran Islam dirumuskan dengan jelas dalam
percakapan Nabi Muhammad dengan sahabat beliau Mu’az bin J abal, yang di dalam kepustakaan terkenal
dengan hadits Mu’az. Menurut hadits Mu’az bin Jabal (nama sahabat Nabi yang diutus Rasulullah ke
Yaman untuk menj adi Gubemur di sana) sumber aj aran Islam ada tiga, yakni (l) Al-Qur 'an (Kitabullah),
(2) As- Sunnah (kini dihimpun dalam al-Hadits) dan (3) Ra ’yu atau akal pikiran manusia yang memenuhi
syarat untuk berìjtihad. (Mohammad Daud Ali :1997 :92)

Ijtíhad menurut bahasa berarti: mencurahkan kemampuan secara maksimal, untuk mencapai suatu
urusan atau suatu pekerj aan. Sedang ijtihad menurut istilah sebagaimana yang dikemukakan oleh Al-
Kamal Ibnul Humam yaitu:

Bila diperhatikan dari deñnisi di atas, ijtihad merupakan suatu usaha sungguh-sungguh dengan
mempergunakan seluruh kemampuan akal pikiran, pengetahuan dan pengalaman manusia yang memenuhi
syarat untuk mengkaji dan memahami wahyu dan Sunnah serta mengalirkan ajaran, termasuk ajaran
mengenai hukum  Islam dari keduanya. Ra’yu manusia dalam beberapa buku, seperti telah
disinggung di atas, disebut akal pikiran. Hasil penggunaan ra’yu adalah pendapat orang atau orang-
orang yang memenuhi syarat merumuskan aj aran, nilai dan norma atau kaidah pengukur tingkah laku
manusia dalam segi kehidupan. Produk ajaran Islam yang dihasilkan dari pengkaj ian ra’yu ini dikenal
juga dengan ijtz'had.

Ketiga sumber ajaran Islam ini merupakan satu rangkaian kesatuan, dengan urutan keutamaan
sepelti tercantum dalam kalimat di atas, tidak boleh dibalik. Dan kalau dihubungkan dengan peringkat
(rangking)-nya masing-masing, Al-Qur’an dan Al-Hadits merupakan sumber utama, sedang akal pikiran
manusia yang memenuhi syarat berijtihad untuk merumuskan aj aran, menentukan nilai dan norma suatu
perbuatan dan benda, mempakan sumber tambahan atau sumber pengembangan.

Berturut-turut secara ringkas dan hanya dilihat dari beberapa seginya saja, sumber agama dan
aj aran Islam, diuraikan dalam halaman berikut. dan download ebook mya karena tulisan nya sangat banyak Download sumber_agama_dan_ajaran_islam.pdf
 
Privacy Policy : Disclaimer : Site Map : About - Copyright © 2007. Agama Islam Jawa - All Rights Reserved